Waspada PCOS bagi Perempuan! Segera Periksa ke Dokter Jika Alami Gejala Berikut

warta-online.com/ – Dokter spesialis kebidanan dan kandungan dr. Gita Pratama Sp.OG(K), MRepSc memperkirakan sekitar 10 hingga 15 perempuan menderita Polycystic Ovarian Syndrome ( PCOS ) atau sindrom polikistik ovarium.

Namun, menurutnya, sekitar 50 persen pasien PCOS tidak tertangani dengan baik. Hal ini bisa terjadi lantaran ketidaktahuan pada pasien serta ketidakmampuan dokter umum dalam mendiagnosis.

Dia menjelaskan, PCOS merupakan suatu kelainan pada perempuan dengan berbagai gejala , seperti kelainan hormonal, reproduksi, atau metabolik.

Dokter yang akrab disapa Tommy ini juga mengatakan, selain masalah infertilitas, PCOS dikhawatirkan memicu penebalan dinding rahim (endometrium) hingga kanker endometrium.

“ PCOS ini banyak sekali penderitanya dan pasien saya juga bisa dibilang sebagian besar pasien PCOS ,” ujarnya, seperti dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Antara, Rabu, 11 Januari 2023.

Menurutnya, ada tiga gejala umum PCOS , yaitu gangguan siklus haid, hiper-androgen atau kelebihan hormon testosteron yang salah satu tandanya yakni tumbuh rambut berlebihan, serta folikel atau telur yang tidak membesar saat masa subur yang dapat dilihat melalui USG.

“Mitos bahwa gangguan haid itu lumrah pada perempuan sebelum menikah, sebaiknya jangan dipercaya. Kalau memang ada gangguan haid, terutama kalau sudah sampai tiga bulan ke atas, sebaiknya langsung ke dokter karena khawatir terjadinya penebalan dinding rahim,” katanya.

Gangguan siklus menstruasi memang menjadi salah satu gejala yang kerap ditemui pada pasien PCOS . Kendati demikian, Tommy menuturkan, sekitar 10 persen pasien PCOS memiliki siklus haid yang teratur.

“Kalau memang haidnya teratur, tetapi ada pertumbuhan rambut yang berlebihan atau susah punya anak, sebaiknya ke dokter juga. Walaupun kecil (risiko), bisa terjadi ( PCOS ). Kalau ke dokter mungkin bagusnya pada saat masa subur, untuk dilihat apakah ada telur yang membesar atau tidak,” tutur Tommy.

PCOS sebenarnya lebih rentan dialami perempuan obesitas lantaran berkaitan dengan peningkatan kadar insulin. Kadar insulin yang meningkat bisa menyebabkan telur tidak membesar serta terganggunya proses ovulasi.

Namun demikian, menurutnya, perempuan dengan tubuh kurus pun tidak lepas dari risiko PCOS . Umumnya perempuan kurus yang mengalami PCOS berkaitan dengan masalah kelebihan produksi hormon pelutein atau Luteinising Hormone (LH).

“LH ini bersama dengan hormon lain yaitu Follicle Stimulating Hormone (FSH) akan mengatur perkembangan telur, jadi harus seimbang. Misalnya, LH kadarnya 5, berarti FSH-nya 5. Tapi kalau LH-nya berlebihan, misal LH-nya 10 sementara FSH-nya 5, maka akan terjadi peningkatan hormon androgen atau hormon laki-laki,” kata Tommy.

Proses berikutnya sama seperti pada perempuan obesitas. Peningkatan hormon androgen akan menyebabkan telur susah tumbuh, tidak terjadi ovulasi, dan selanjutnya terjadi gangguan-gangguan hiper-androgen.

Menurut Tommy, langkah awal yang perlu dilakukan penderita PCOS yakni mengubah gaya hidup sehat dengan konsumsi gizi seimbang dan berolahraga.

Meskipun pasien PCOS bukan perempuan obesitas dan tidak perlu menurunkan berat badan, tetapi olahraga tetap dibutuhkan guna membantu memperbaiki hormon LH.

“Penelitian menunjukkan kalau pasien yang nir-obes olahraga, ternyata ada perbaikan dari hormon LH. Jadi, coba olahraga teratur karena hormon LH ini juga bisa dipengaruhi oleh berbagai macam hal, misalnya faktor lingkungan, stres, dan sebagainya,” tutur dia.***