Wall Street berakhir naik tajam ketika investor tunggu data inflasi

warta-online.com/ – Wall Street ditutup naik tajam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), didorong kenaikan solid saham-saham teknologi ketika investor menunggu data inflasi yang kemungkinan mengisyaratkan jalur kenaikan suku bunga Federal Reserve di masa depan.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 376,66 poin atau 1,11 persen, menjadi 34.245,93. Indeks S&P 500 bertambah 46,83 poin atau 1,14 persen, menjadi ditutup pada 4.137,29. Indeks Komposit Nasdaq terangkat 173,67 poin atau 1,48 persen, menjadi berakhir di 11.891,79.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor teknologi dan konsumer non-primer masing-masing naik 1,77 persen dan 1,46 persen, melampaui yang lainnya. Sementara itu sektor energi tergelincir 0,6 persen, satu-satunya kelompok yang menurun.

Sejauh tahun ini, S&P 500 telah naik sekitar 8,0 persen, dan indeks masih turun sekitar 14 persen dari rekor penutupan tertingginya pada Januari 2022.

Saham-saham raksasa teknologi besar seperti Microsoft, Apple, Amazon, Meta Platformsdan Netflix semuanya ditutup lebih tinggi.

Meta melonjak sekitar 3,0 persen setelah Financial Times melaporkan pada Minggu (12/2/2023) bahwa perusahaan sedang bersiap untuk mengumumkan putaran baru PHK, menambah PHK November lalu.

Microsoft naik lebih dari 3,0 persen, Nvidia naik 2,5 persen, serta Apple dan Amazon masing-masing terdongkrak lebih dari 1,0 persen. Bersama dengan Meta, saham-saham kelas berat terkait teknologi tersebut berkontribusi lebih besar dari saham lainnya terhadap kenaikan S&P 500 selama sesi perdagangan.

Membantu mengangkat Microsoft, Stifel menaikkan target harganya pada perusahaan perangkat lunak itu dan mengatakan jelas ingin meningkatkan dominasi pencarian Google Alphabet melalui integrasinya dengan ChatGPT.

Investor berfokus pada data inflasi Januari yang akan dirilis pada Selasa waktu setempat untuk menilai kembali taruhan mereka pada jalur kebijakan moneter bank sentral.

Indeks-indeks utama Wall Street melemah pekan lalu setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell memperingatkan bahwa suku bunga mungkin perlu bergerak lebih tinggi dari yang diperkirakan dalam pertempuran bank sentral melawan inflasi.

“Hari ini hanyalah reaksi alami dalam arah yang berlawanan setelah kita melihat tekanan jual yang sangat berat,” kata Keith Buchanan, Manajer Portofolio di GLOBALT Investments di Atlanta.

Namun, volume perdagangan di bursa AS relatif ringan, dengan 9,5 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan dengan rata-rata 11,9 miliar saham selama 20 sesi sebelumnya.

Fidelity National Information Services Inc anjlok 12,5 persen menyusul keputusan konglomerat perbankan dan pemrosesan pembayaran itu untuk memisahkan bisnis pembayaran merchant-nya.

Coca-Cola naik 1,6 persen menjelang laporan keuangan triwulanannya yang akan keluar pada Selasa pagi.

Menurut data Refinitiv, 69 persen dari perusahaan-perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan hasil kuartalan sejauh ini telah melampaui ekspektasi laba. Para analis memperkirakan laba kuartal Desember turun hampir 3,0 persen dari tahun sebelumnya.