Jangan Heran Subsidi Jebol, Konsumsi BBM di RI Boros!

Jangan Heran Subsidi Jebol, Konsumsi BBM di RI Boros!

warta-online.com/ – Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia terhitung lebih boros dibandingkan dengan negara lainnya, seperti India. Indonesia disebut 40% menggunakan BBM lebih boros daripada India.

Analis Energi Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Putra Adhiguna mengungkapkan, Indonesia lebih boros dibandingkan negara lain dalam penggunaan BBM-nya dikarenakan tidak adanya kebijakan target penghematan BBM, seperti yang sudah diadopsi oleh negara lain.

Mengacu pada data IEEFA, konsumsi BBM untuk kendaraan ringan konvensional di Indonesia mencapai lebih dari 8 liter per 100 kilo meter (km). Sedangkan India, konsumsi BBM untuk kendaraan ringan konvensional hanya kurang dari 6 liter per 100 km.

Menurutnya, Indonesia tidak sesuai dengan komitmen negara untuk beralih ke energi yang lebih bersih.

“Konsumsi BBM mobil ringan rata-rata di Indonesia sekitar 40% lebih boros dibanding India, dan hal ini tidak mencerminkan sebuah negara yang khawatir dengan masalah impor minyak,” ungkapnya dalam acara Laporan IEEFA, Jakarta, Senin (6/2/2023).

Putra mengatakan, para pemangku kepentingan harus meminta industri otomotif untuk menyelaraskan arah bisnis mereka dengan kepentingan nasional untuk kendaraan yang lebih efisien, rendah emisi, dan bergerak menuju ke industri kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) di masa mendatang.

“Kebijakan yang mewajibkan target tertentu seperti fuel economy harus segera diterapkan untuk menekan industri otomotif menuju kendaraan yang lebih efisien,” tambahnya.

Perlu diketahui, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sempat menyebutkan bahwa penyerapan Jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite (RON 90) selama Januari sampai dengan Desember 2022 diperkirakan mencapai 29,48 juta kilo liter (kl).

Prognosa penyerapan BBM Pertalite ini mencapai 98,56% dari target kuota pada 2022 sebesar 29,91 juta kl.

Kuota Pertalite 29,91 juta kl pada 2022 lalu sudah ditingkatkan 30% dari kuota awal sebesar 23,05 juta kl.

Sementara untuk kuota 2023, untuk BBM Solar subsidi ditargetkan sebesar 17 juta kl dan kuota Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) atau Pertalite (RON 90) sebesar 32,56 juta kl.

Di sisi lain, realisasi subsidi dan kompensasi energi, baik Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik, RI pada 2022 mencapai Rp 551,2 triliun atau setara 109,7% dari target yang ditetapkan pada Peraturan Presiden No.98/2022 sebesar Rp 502,4 triliun.