Harga rumah di China naik pada Maret 2023

warta-online.com/ – Kota-kota besar di China secara umum melaporkan kenaikan harga rumah bulan lalu, mengindikasikan pemulihan stabil pasar properti negara itu, demikian ditunjukkan data resmi pada Sabtu (15/4).

Pada Maret, 64 dari 70 kota besar dan menengah mencatat kenaikan bulanan untuk harga rumah baru, naik dari 55 kota pada Februari, menurut Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS) China. Sementara itu, 57 kota mencatat harga yang lebih tinggi untuk rumah bekas huni, naik dari 40 kota pada Februari.

Harga rumah baru di empat kota tingkat pertama, yakni Beijing, Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou, naik 0,3 persen pada Maret, dibandingkan dengan pertumbuhan 0,2 persen pada Februari.

Di 31 kota tingkat kedua, harga rumah baru naik 0,6 persen, naik dari peningkatan 0,4 persen sebulan sebelumnya. Rumah baru di 35 kota tingkat ketiga mencatatkan kenaikan harga 0,3 persen, tingkat pertumbuhan yang sama dengan Februari.

Tanda-tanda yang menggembirakan juga terlihat di pasar rumah bekas huni seiring harga mengalami kenaikan 0,5 persen dan 0,3 persen dalam basis bulanan di kota tingkat pertama dan kedua, sementara kenaikan 0,2 persen tercatat di kota-kota tingkat ketiga.

Dalam basis tahunan (year on year/yoy), harga rumah baru di empat kota tingkat pertama naik 1,7 persen bulan lalu, sementara harga rumah bekas huni naik 1,1 persen.

Xu Xiaole, seorang analis senior dari platform broker real estat China Beike, mengatakan bahwa rebound terjadi seiring kebijakan pemerintah untuk menstabilkan pasar properti mulai diberlakukan secara bertahap, dan rigid housing demand (keyakinan bahwa setiap orang harus membeli rumah terlepas dari harganya) serta permintaan untuk perbaikan rumah semakin terpenuhi.

Senada dengan poin yang disampaikan Xu, E-house China R&D Institute mengatakan dalam sebuah catatan penelitian bahwa pasar yang menghangat menunjukkan kepercayaan pasar telah mengalami rebound, dan pasar properti tengah berada di jalur menuju pemulihan.

Sebagai salah satu pilar perekonomian, sektor properti yang dipadukan dengan industri konstruksi menyumbangkan 13 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu.

Pasar properti China mengalami tahun yang berat pada 2022, dihantam oleh faktor-faktor seperti lonjakan kembali COVID-19, sentimen pasar yang melemah, dan permintaan yang menyusut.

Para pembuat kebijakan telah meluncurkan langkah-langkah pendukung untuk menopang industri tersebut, termasuk mendorong bank-bank komersial untuk memberikan pinjaman guna mendanai proyek-proyek real estat dan memungkinkan kota-kota menyesuaikan batas bawah tingkat hipotek rumah pertama.

Laporan kerja pemerintah tahun ini menjanjikan sejumlah upaya untuk mencegah ekspansi tak terkendali di pasar real estat dan mendorong pembangunan yang stabil.

Berkat upaya-upaya ini, perubahan positif telah terlihat di pasar real estat. Selain stabilisasi harga properti yang terlihat, penurunan dalam hal investasi dan penjualan real estat menyusut selama dua bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan tahun 2022.

Menteri Perumahan dan Pembangunan Perkotaan-Pedesaan China Ni Hong mengatakan bahwa dia “memiliki keyakinan penuh” terhadap pemulihan stabil pasar properti China pada pertemuan “Dua Sesi” Maret lalu.

Rumah diperuntukkan sebagai tempat tinggal dan bukan untuk spekulasi, permintaan perumahan riil harus dijamin, dan pasang surut tajam di pasar harus dihindari, imbuh Ni, seraya menyebutkan bahwa pemulihan pasar properti juga harus sejalan dengan pembangunan berstandar tinggi, demikian Xinhua dikutip Minggu.