Cek Nih! Ada Rekomendasikan Saham GOTO dari UBS

Cek Nih! Ada Rekomendasikan Saham GOTO dari UBS

warta-online.com/Jakarta, CNBC Indonesia – PT UBS Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi beli (buy) di tengah penurunan harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) atau naik dari rekomendasi sebelumnya yakni jual (sell). Adapun rekomendasi dengan target harga Rp 160/saham dalam 12 bulan ke depan.

“Kami mengerek rekomendasi menjadi beli dari jual karena GoTo masih menjadi pemimpin di empat layanan via internet di Indonesia, yakni e-commerce, pesan-antar makanan, ride hailing, dan fintech, dan akan mendapat manfaat dari peningkatan penetrasi online yang berkelanjutan,” tulis tiga analis UBS yakni Navin Killa, Marissa Putri, dan Joshua Tanja, dalam risetnya, dikutip Selasa (13/12/2022).

Dalam riset berjudul GoTo: Opportunity in adversity: double upgrade to Buy ini menunjukkan bahwa saham GoTo dinilai masih atraktif kendati harga sahamnya mengalami penurunan dalam karena koreksi pasar saham teknologi dan berakhirnya masa penguncian saham (lock-up).

UBS optimistis neraca kas GoTo yang mencapai US$ 2 miliar atau sekitar dengan Rp 31 triliun (kurs Rp 15.600/US$) dengan burn rate (uang modal dari investor) per kuartal yang mencapai US$ 250 juta atau Rp 3,9 triliun dapat mengurangi tekanan untuk mencari pendanaan baru.

Di sisi lain, di luar sentimen pengurangan subsidi dan situasi ekonomi makro yang menantang, nilai transaksi bruto (gross transaction value/GTV) setiap kuartal juga terus mengalami kenaikan. UBS menuliskan pertumbuhan GoTo juga sebanding dengan Grab dan Shopee yang menunjukkan bahwa GoTo menjadi salah satu pemain dominan di pasar, meski banyak yang mengatakan GoTo mempunyai neraca keuangan yang lebih lemah dibanding kompetitornya.

Tak hanya itu, UBS percaya pendapatan segmen on-demand dan e-commerce GoTo akan naik sekitar 20-30% dari 2022 hingga 2025 karena penetrasi on-demand dan e-commerce di Indonesia masih rendah dibanding negara lain. Jumlah take-rate (komisi yang diambil) dari bisnis e-commerce di Indonesia juga masih rendah dibanding standar global sehingga masih mempunyai ruang untuk bertumbuh.

Data yang dikumpulkan oleh UBS Evidence Lab menunjukkan bahwa monthly active users (MAU) atau pengguna aktif bulanan di Tokopedia telah unggul di kampanye belanja nasional (9-9, 10-10,11-11). MAU Tokopedia naik 20% dari tahun ke tahun dibandingkan MAU Shopee tumbuh 10% dan Lazada turun 3%.

Lebih lanjut, UBS juga memperkirakan segmen fintech GoTo bisa mencatatkan GTV di angka US$ 43 miliar atau setara Rp 671 triliun dengan pendapatan mencapai Rp 240 juta atau Rp 3,7 triliun pada 2025. Hal ini karena GoTo mempunyai solusi fintech paling lengkap di Indonesia, mulai dari aplikasi e-wallet (GoPay) hingga layanan pinjaman digital, asuransi, hingga sektor investasi.

“Sinergi GoTo juga dapat memaksimalkan biaya, khususnya insentif, dan biaya sales dan marketing (S&M), seperti tercermin dari kinerja kuartal III-2022. Di mana persentase biaya insentif dan S&M terhadap GTV turun dari 4,9% di kuartal III-2021 menjadi 3,9% di kuartal III-2022,” terang riset tersebut.

Seperti diketahui GoTo telah mencapai margin kontribusi positif untuk segmen on-demand pada September atau beberapa bulan lebih cepat dari target mereka. GoTo juga menargetkan grup akan mencapai margin kontribusi positif pada paruh kedua 2023 yang menurut UBS, target ini sangat mungkin tercapai.

Kemudian dari sisi kinerja, selama 9 bulan tahun ini hingga September 2022, GTV GoTo mencapai Rp 451,47 triliun dari periode yang sama tahun tahun lalu Rp 324,94 triliun (proforma). Jumlah GTV ini naik 38,94%, sedangkan pendapatan kotor juga naik 42,01% menjadi Rp 16,63 triliun dari sebelumnya Rp 11,71 triliun (proforma).

Sementara itu, per 3 bulan hingga September 2022, tiga lini utama bisnis GoTo yakni Gojek, Tokopedia, dan GTF juga membukukan kinerja solid.

Layanan on-demand melalui Gojek mencatatkan GTV Rp 15,7 triliun naik 24% yoy, sedangkan pendapatan bruto Gojek Rp 3,5 triliun, naik 31% yoy. Nilai GTV dari layanan e-commerce lewat Tokopedia naik 15% yoy menjadi Rp 69,9 triliun, dan pendapatan bruto juga tumbuh 27% yoy menjadi Rp 2,2 triliun.

Sementara itu GTV dari lini fintech melalui GTF (termasuk di dalamnya Gopay) mencapai Rp 97,1 triliun, melesat 78% yoy, dan pendapatan bruto nik 48% yoy menjadi Rp 400 miliar.